Stok Terbatas Buku Original

Antara Harapan dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870

Rp65.000

Kesan ironis dialami oleh sebagian besar para perempuan (ibu) dan anak diKedu. Besarnya keterlibatan mereka dalam proses produksi justru harus dibayar mahal dengan semakin menurunnya tingkat kualitas serta kelangsungan hidup mereka. Hal tersebut berlangsung sebelum masa Tanam Paksa hingga pasca-Tanam Paksa. (Moordiati, 2020: 85)

Stok 10

-
+

Deskripsi

Ketidak stabilan tingkat kelahiran seringkali juga masih dipengaruhi oleh berkembang serta berubahnya kondisi sosial ekonomi penduduk Kedu waktu itu terutama saat berlangsungnya Tanam Paksa. Menurutnya prosentase kelahiran seperti apa yang digambarkan Bleeker besar kemungkinan bersamaan dengan timbulnya berbagai wabah yang melanda wilayah Karesidenan Kedu pada periode tersebut seperti tipus, kolera, demam, dan cacar.⁣⁣ ⁣⁣

Sementara naiknya prosentase kelahiran selain pemenuhan tenaga kerja, kemungkinan besar juga merupakan salah satu reaksi penduduk untuk memperoleh hak bagian tanah sehingga memaksa para pemuda untuk menikah pada usia muda. Kenyataan ini turut membawa pengaruh terhadap meningkatnya frekuensi angka perkawinan di Karesidenan Kedu selama periode Tanam Paksa. Meski untuk beberapa periode tidak tercatat tidak kurang 177. 881 pasangan yang menikah.

Bahkan dari hasil estimasi ini terlihat bahwasanya mulai tahun 1854, 1855 serta 1856 tercatat angka perkawinan yang cukup besar.⁣⁣ ⁣⁣ Bahkan di beberapa distrik di Kabupaten Magelang, seperti distrik Magelang, Menoreh serta Probolinggo angka perkawinan cendrung terlihat besar sejak tahun 1831. Di distrik Magelang misalnya, jumlah perkawinan telah mencapai 3208 pasang, sedangkan di distrik Menoreh terdapat 3020 pasang. Distrik lainnya seperti, di distrik Probolinggo angka perkawinan hanya mencapai 290 pasang atau lebih sedikit jika dibandingkan dari kedua distrik sebelumnya.⁣⁣

Informasi Tambahan

Berat200 g
Bahasa

Cover

Halaman

117

Penerbit

Penulis